Rabu, 21 Maret 2012

Cinta dalam Perspektif Fiqh

Pernahkah merasakan yang namanya cinta?? cinta itu apa sih?? untuk siapa cintamu kau labuhkan?? bagaimana Allah mengatur rasa cinta ini?? Bagaimanaaaaaaa??

cinta, cinta.... ingat sedikit ucapan yang keluar dari bibir lucunya Delisa,"Umi, Delisa cinta Umi karena Allah..." (potongan dialog dalam film Hapalan Sholat Delisa). Kata-kata itu mampu menggetarkan hati umi Delisa hingga menitikkan air mata. Pernahkah kita ucapkan ini ke umi, ibu, mama, bunda, mami, abi, bapak, papa, ayah, kita?? Alhamdulillah jika kita sudah pernah mengucapkannya. Jika belum, yuk kita coba ucapkan ini kepada orang tua kita. yakinlah mereka pasti terharu mendengarnya karena bahagia. Namun, entah kebetulan atau memang hal biasa, kata-kata yang indah ini seringkali diucapkan untuk orang yang belum atau bahkan tidak berhak atas itu.*&($^*&@%(*!&)&(iya gituh???)...hmmm ngga tau juga sih.
tapi coba kita liat mulai dari lirik lagu, status fb, iklan, film, sampai kepada kehidupan nyata saat ini, banyak sekali yang mampu mengucapkan hal itu kepada seseorang (baca: lawan jenis) yang menurutnya istimewa, padahal kalau diperhatikan, mereka itu "bukan siapa-siapa"nya. Nah lho..gimana tuh??
Guys, ternyata kata CINTA yang terdiri dari lima huruf itu bisa berbeda sesuai dengan perorangan yang memaknainya. Walaupun begitu, satu yang mungkin sama adalah cinta tidak pernah mati.
Menurut Jalaluddin Rumi, cinta dalah tiupan seruling yang menggugah jiwa. Bagi Kahlil Gibran, ia adalah sayap-sayap kehidupan. Bagi Rabi'ah al-Adawiyah, ia adalah tatapan mesra Sang Pemilik Waktu. Cinta adalah sebuah energi. Jika bukan karena cinta, Adam tidak akan pernah mau melanggar peraturan yang diberikan oleh Allah, untuk tidak mendekati buah khuldi. Terjadi pertengkaran antara Qabil dan Habil putera Adam, juga dikarenakan adanya cinta. Adanya niatan perselingkuhan Zulaikha kepada Yusuf, juga dimotori oleh cinta. (Mohammad Irsyad, 2001: 1-2)
Dan cinta ini merupakan sebuah fitrah, seperti firman Allah:
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak* dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."(QS. Ali Imran: 14)

*hewan-hewan yang termauk jenis unta, sapi kambing, dan biri-biri.

Nah dari firman Allah di atas, jelaslah bahwa Allah yang menciptakan rasa cinta (ya iyalah, satu-satunya pencipta, Allahu Robbi). Lantas bagaimana cinta itu disalurkan menurut Allah??
Sebelum kita membahas bagaimana menyalurkan cinta, kita mungkin perlu tahu tingkatan-tingkatan cinta. Dalam buku Mohammad Irsyad yang berjudul "Fiqh Jatuh Cinta" tertulis, Menurut Erich Fromm, cinta itu dibagi menjadi lima fase atau tahapan. Kelima fase atau tahapan itu adalah erotic love, self love, brotherly love, motherly love, dan Love of God. Erotic love merupakan tahapan terendah dan Love of God merupakan tahapan tertinggi.

  1. Love of God
  2. Motherly Love
  3. Brotherly Love
  4. Self Love
  5. Erotic Love

Dari jenis-jenis cinta di atas, mungkin yang membuat kita penasaran adalah erotic love. Apa itu erotic love? Dalam buku tersebut juga dipaparkan apa yang dimaksud dengan erotic love.
Erotic love atau cinta erotis adalah cinta yang lahir dari stimulan objek yang diamati dan diterima oleh panca indera, yang kemudian bermukim dalam hati. Cinta ini tampak lebih natural, eksklusif dan bukan berdasarkan nilai-nilai universal. Cinta ini akan menghasilkan sesuatu yang sering disebut dengan jatuh cinta. Nah, inilah yang mungkin bahkan pasti pernah anda rasakan. Erotic love adalah sebuah cinta yang bisa dikatakan liar dan tidak terarah karena cinta ini tidak mengenal nilai-nilai moral dan spiritual karena munculnya lebih kepada rasa nafsu (syahwat atau hasrat seksual). Jika cinta ini tidak diarahahkan dan ditempatkan pada tempat yang benar, maka cinta ini akan menempati tempat yang sama dengan cinta erotis yang dimiliki oleh binatang.
Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya teladan bagi umat manusia. Sesuai dengan hadits Rasulullah:

"Barang siapa di antara kamu sekalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan melindungi kemaluan (alat kelamin). Dan barang siapa yang belum mampu maka khendaklah ia berpuasa karena puasa itu dapat menjadi penawar bagi nafsu."
tenyata, arahan untuk menyalurkan nafsu adalah dengan menikah, karena nikah akan menghalalkan yang sebelumnya haram (zina). jika belum siap, maka shaum. shaum disini tidak hanya berarti shaum secara ritual saja. Tetapi sesuai dengan arti dari kata shaum itu sendiri adalah menahan. Lalu apa yang harus ditahan? bukankah shaum seperti shaum di bulan Ramadhan itu juga menahan. YA..memang, tapi kata menahan itu bisa diartikan untuk banyak hal. Menahan pandangan, pendengaran, sikap, atau apapun yang dapat mengarahkan kita kepada retaknya hati kita.
Disini tentu bukan perasaan cinta yang harus dihilangkan, namun rasa itu harus dikendalikan supaya berbuah manis hingga akhir. Saudara-saudariku, pernikahan itu ibadah, dan mendekati zina (apalagi zina) itu dosa. Jadi kenapa jika segaanya ingin bernilai ibadah, kenapa harus melalui jalan dosa?

yuk ah kita cari, fahami ilmu Allah, karena tak ada ilmu yang sia-sia.

wallahu'alam bishshowab


Referensi:
Irsyad, Mohammad. 2001. Fiqh Jatuh Cinta. Yogyakarta: Irsyadul Fikr.