Senin, 25 Februari 2013

senandung ukhuwah

Diawal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping dihati
terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita

Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka
kita jalani semua
semata mata harapkan ridhoNYA

Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rhobitoh pengikatnya
jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua disyurga

Lirik lagu ini mampu membuat saya meleleh dengan cepat sembari membuka foto-foto kenangan kebersamaan bersama orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga.

Selasa, 19 Februari 2013

Kamu dan Duniamu

Ini adalah hari keempat saya bergabung dalam suasana lingkungan yang luar biasa. Luar biasa membuat saya bersyukur, luar biasa membuat saya terus belajar untuk bersabar, luar biasa berada dalam lingkungan yang amazing. Hari Senin lalu saya mencoba untuk masuk ke sebuah kawasan yang belum saya bayangkan sebelumnya.
Hari itu saya dikenalkan dengan seorang gadis cantik (10) yang awalnya enggan untuk ditanya namanya sekalipun. sedikit demi sedikit coba saya dekati dengan cara saya. Respon awalnya memang tidak terlalu terbuka, tapi ia pun mulai bisa membuka suaranya. sedikit paksaan, ia bisa menjawab. sedikit desakan, ia bisa sedikit fokus. Sedikit saja. Namun, itulah yang saya harapkan hingga akhirnya ia pun menceritakan hal yang mungkin tidak biasa diceritakan pada orang yang baru dikenalnya.
Yaa, dengan mengenalnya, saya berharap dia mulai bisa ngobrol dengan teman sebayanya, dia bisa main layaknya seorang anak yang senang berkumpul dan beraktualisasi di usianya, dia bisa percaya diri menjawab/ merespon apapun pertanyaan/ pernyataan yang dilontarkan padanya. Ya, itulah yang saya harapkan saat ini. Pertanyaannya, memang apa yang terjadi dengannya?
Saya ingin sedikit menggambarkan bagaimana ia selama empat hari saya mengenalnya. Saya rasa, gadis cantik ini sangat perlu latihan untuk berbicara dan merespon orang lain di sekitarnya. Ia perlu banyak dukungan baik di sekolah maupun di rumahnya karena kita tak bisa membiarkan ia merasa sendiri dan anteng sendiri dengan teman 'khayalannya'. Hmmm kutipan itu segaja saya berikan karena saya masih belum faham dengan yang namanya teman 'khayalan'. Entah ada atau tidak, ia memang sesekali (cenderung lebih sering) menyebutkan nama temannya itu. Dan saya pun ga tau dari mana dia dapat mengartikan bahwa mereka adalah 'teman khayalan'. Pernahkah kamu memiliki teman khayalan? atau pernahkah kamu memiliki teman yang memiliki teman khayalan? Seperti apakah mereka? wallahu'alam kalimat yang tepat untuk pikiran saya saat ini.
Imajinasi memiliki teman khayalan mungkin bukan suatu hal yang gimana gitu..tapi apa memang iya hal itu bisa membuat konsentrasi menjadi tak terarah? lagi..lagi...wallahu'alam. Tapi saya menurut saya, apapun, bagaimanapun, kita harus mengupayakan segala hal agar seorang anak yang memiliki teman khayalan dapat bersikap seperti anak-anak biasanya. Dan menurut saya, seluruh aspek yang berhubungan dengan anak tersebut pun harus mendukung terhadap pencapaian tujuan itu. Yaa jangan sampai seorang anak berada dalam pikiran yang sangat jauh berbeda dalam waktu yang berbeda, sebenarnya wajar sih kalau semua itu masih berada dalam area yang sama, bukan waktu yang satu berada di dunia nyata dan waktu yang lain dihabiskannya  untuk berada dalam dunia khayalan (kecuali kalau sedang membuat dongeng kali yaa) karena akan sulit baginya untuk kembali beradaptasi dengan dunia nyata tersebut.
Apapun kondisimu, saya hanya ingin membantumu untuk menemukan hal yang bisa membuatmu menjadi istimewa berada dalam dunia nyata ini. Entah bagaimana caranya. Tapi saya ingin membuatmu merasakan indahnya memiliki sahabat nyata yang begitu dekat dan peduli pada diri kita. Insya Allah, kamu pasti bisa.