Jumat, 10 Januari 2014

Berubah itu..BISA!!

Bismillahhirrohmaanirrohiim
Pagi ini saya ingin menuturkan kisah yang mungkin biasa, tapi menurut saya ini adalah hal yang tidak biasa.
Entah kapan persisnya saya kenal dengan sebut saja A. Dia adalah seorang siswa di sebuah sekolah yang saya pun kini berkecimpung di sana. Sebelum saya kenal dengannya, saya pernah mendengar cerita tentangnya yang terdengar tidak positif. Yaa biasalaah…kenakalan remaja. Ketika itu saya pikir, “Oh ya sudah…mudah-mudahan dia bisa menjadi lebih baik”.
STOP saya tidak memikirkan anak itu. Bahkan wajahnya pun lupa-lupa ingat, karena saya memang tidak pernah masuk ke kelasnya. Berselang berapa minggu setelah saya mendengar cerita tentangnya, selesai shalat asar (ketika itu saya sedang piket) seorang anak duduk di samping saya. Dia tanya apakah saya guru baru? Asal saya, asal kampus saya, saya ngajar mata pelajaran apa, ngajar di kelas berapa, dan saya tak ingat apakah dia nanya nama saya atau tidak. Tentunya semua pertanyaan saya jawab dengan mudah dan santai. Awalnya dia mengira saya adalah guru agama. Entah kenapa sebagian anak di sekolah yang pernah ngorbol dengan saya mengira saya guru agama. Masya Allah.
Tiba-tiba anak itu bilang, “Bu, saya mau belajar ngaji!” Jujur, saya kaget tapi juga senang. Jarang sekali ada anak laki-laki yang mau jujur bilang mau belajar ngaji. Bahkan saya ngga pernah lihat sebelumnya. Saat itu juga saya bilang, “Boleh..boleh banget.”
“Ya udah atuh bu, sekarang aja”, what? Sekarang? Oow..saat itu memang kelas itu sedang praktek dan di bagi menjadi 2 kloter. Dan karena saat itu juga suasana sedang lengang, “hmm oke deh”. Akhirnya 2 orang temannya pun ikut gabung. Singkat cerita, selesai ngaji mereka bilang, “bu, minggu depan belajar lagi yaa? Boleh?”, “oke ^_^”. Sip hari itu saya punya kenalan baru, dan ternyata anak pertama yang minta belajar ngaji dengan saya itu adalah anak yang pernah saya dengar ceritanya yang tadi saya ceritakan di awal. Hmm,, saya pikir anak ini masih bisa ‘mendengar’ dengan baik, dia bahkan tak malu minta belajar ngaji. Kesimpulan saya, anak ini bisa jadi lebih baik.
Sayang, hingga saat ini kita tak pernah kumpul untuk belajar ngaji lagi, karena memang waktu-waktu kemarin sudah sering libur, bahkan libur panjang. Tapi saya sempat memintanya dan teman-temannya untuk fotokopi modulnya karena saya tak sempat fotokopi sendiri.
Kemarin, saya lihat dia terlihat lebih murung. Akhirnya saya berkesempatan untuk ngobrol sebentar dengan anak itu. Saya sapa dia, kabarnya, tanya gimana ngajinya. Katanya dia belajar di rumah, walaupun sendiri. Oke, kita sepakati lagi untuk waktu belajar ngaji.
Ketika saya menunggu untuk sholat, dia bilang, “Hayu bu, sholat bareng”. Subhanallah, ini lebih baik menurut saya. Tapi karena tidak memungkinkan (musholanya penuh), tidak jadi berjamaah.
Setiap orang punya potensi untuk berbuat baik ataupun buruk. Dan semua orang bisa berubah ke arah yang lebih baik atau ke arah yang lebih buruk. Hal itu pun didorong oleh faktor-faktor lainnya selain faktor dari dalam dirinya sendiri.
Setelah sholat, dia mendekat dan entah kenapa dia bercerita kalau dirinya sedang bingung, galau, risau, atau apalah itu namanya. Saya dengarkan ceritanya. Saya tersentak ketika dia bilang kemarin-kemarin sakit dan dokter bilang gejala kanker otak. Innalillahi, anak seusia dia. Ketentuan Allah memang untuk setiap makhluk, muda tua bukanlah urusan kita. Katanya sekarang suka pusing, dan obatnya sudah habis. Tapi dia tak mau bilang ke orang tuanya kalau obatnya sudah habis. Dia tak mau diperiksa ke dokter lagi. Dia tak mau tahu lebih lanjut tentang penyakitnya. Namun, yang saya senang dari kata-katanya adalah “saya mau berubah bu, saya mau menjadi lebih baik, saya mau buktikan ke orang lain kalau saya bisa”. Saya mengangguk dan tersenyum lebar. Saya hanya bisa mendukung, saya bujuk dia agar mau pergi ke dokter. Usia itu urusan Allah, kalaupun dia divonis penyakit yang mengerikan, bukan hal yang tidak mungkin saya yang akan meninggal duluan. Bukan karena penyakit, karena kematian itu memang sudah ditentukan hanya saja kita tidak tahu kapan eksekusinya. Menunggu waktu.
Saya hanya titip agar dia tak meninggalkan sholat. Tak usah pikirkan kata-kata orang lain yang membuatnya tak nyaman. Jalanilah kehidupannya dengan baik. Pikirkan masa depannya (dunia akhirat). Tak usah pikirkan penilaian buruk orang lain terhadap kita. Biar Allah saja yang menilai.

Setelah mendengar ceritanya, pikiran saya terbang, bagaimana kalau saya dieksekusi beberapa detik atau menit atau jam kemudian? Apa yang sudah saya siapkan? Bekal apa yang sudah saya siapkan? Cukupkah? Atau malah tak ada sama sekali? Innalillah..naudzubillah..ngeri. Yaa Rabb, istiqomahkanlah aku di jalan-Mu, matikanlah aku dalam keadaan khusnul khotimah. Begitu pun denganmu, nak. Aamiin.