BAB I
APAKAH PERILAKU ORGANISASI ITU?
Perilaku
Organisasi
Menurut Skiner (1938) seorang ahli psikologi, perilaku merupakan respon
atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Sedangkan
istilah organisasi menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian, “organisasi ialah
setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama
serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah
ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang
disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.”
Perilaku
organisasi adalah satu bidang studi. OB mempelajari 3 determinan dalam
organisasi : Individu, kelompok, dan struktur. Di samping itu, OB menerapkan
pengetahuan yang didapatkan tentang dampak individu, kelompok, dan struktur
pada perilaku agar organisasi berjalan lebih efektif.
Fungsi manajemen
adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses
manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan
untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen yang
umum dikenal adalah menurut Henry Fayol yang terdiri dari empat, yaitu
planning, organizing, actuating, dan controlling.
1)
Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan
dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan
perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu.
2) Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan
besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah
manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.
3) Pengarahan (actuating),menggerakkan orang-orang agar mau bekerja
dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki secara efektif.
4) Pengendalian (Controlling) atau pengawasan adalah proses untuk
mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja
yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi.
Peran – Peran Manajemen
Otoritas formal yang dimiliki seorang pemimpin
memunculkan tiga peran interpersonal (hubungan antar manusia), tiga peran
informasional (berkaitan dengan informasi); dan peran desisional (berkaitan
dengan pengambilan keputusan).
1) Peran Interpersonal (Interpersonal Role)
Tiga
peran pemimpin yang muncul secara langsung dari otoritas formal yang dimiliki
pemimpin dan mencakup hubungan interpersonal dasar, yaitu:
a)
Peran sebagai yang dituakan (Figurehead Role)
b)
Peran sebagai pemimpin (Leader Role)
c)
Peran sebagai Penghubung (Liaison Role)
2) Peran Informasional (Informational Role)
Dikarenakan
kontak interpersonalnya seorang pemimpin muncul sebagai pusat syaraf bagi
unit organisasinya. Pemrosesan informasi merupakan bagian utama (key part) dari
tugas seorang pemimpin. Tiga peran pemimpin dalam aspek irformasional tersebut adalah sebagai berikut.
a)
Peran
sebagai monitor (Monitor Role)
b)
Peran
sebagai disseminator (Disseminator role)
c)
Peran
sebagai Juru bicara (Spokesman Role)
3) Peran Pengambilan Keputusan (Decisional Role)
Berkaitan
dengan peran pemimpin sebagai pengambil keputusan terdapat empat peran
pemimpin, yaitu:
a)
Peran sebagai wirausaha
(Entrepreneur Role)
b)
Peran sebagai pengendali
gangguan (Disturbance handler Role)
c)
Peran sebagai yang
mengalokasikan sumberdaya (Resource allocator Role)
d)
Peran sebagai negosiator
(Negotiator Role)
Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal
tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut adalah:
Manajer tingkat atas (top manager)
harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi
kemajuan organisasi
yang kemudian dijabarkan menjadi
suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu yang
terangkum dalam rencana kerja.
2)
Keterampilan berhubungan dengan orang
lain (humanity skill)
Komunikasi yang persuasif harus selalu
diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya sehingga membuat
karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada
atasan.
3)
Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan
untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program
komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.
Selain
tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan
dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:
Merupakan keterampilan yang merujuk pada
kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara
bijaksana.
5)
Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan
masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat
keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok
manajer atas (top manager).
Empat kegiatan manajerial yang biasa dilakukan para
manajer, yaitu :
1) Manajemen
tradisional (pengambilan keputusan, perencanaan dan pengendalian),
2) Komunikasi
(bertukar informasi rutin dan memproses dokumen),
3) Manajemen
SDM (memotivasi, mendisiplinkan, mengelola konflik, mengalokasikan staf dan
melatih),
4) Pembangunan
jaringan (bersosialisasi, berpolitik dan berinteraksi dengan orang-orang luar).
Pendekatan sistematik yang digunakan dalam
buku ini akan menyingkapkan fakta-fakta dan hubungan-hubungan penting serta
akan memberikan dasar untuk membuat perkiraan-perkiraan tentang prilaku yang
lebih akurat. Fondasi pendekatan sistematik ini adalah keyakinan bahwa perilaku
itu tidak bersifat acak. Perilaku berasal dan diarahkan menuju satu titik akhir
yang diyakini pelaku entah benar atau salah sebagai kepentingan terbaiknya. Perilaku
umumnya dapat diperkirakan jika kita tahu bagaimana orang tersebut menyikapi
situasi dan apa yang penting baginya.
Perilaku
organisasai merupakan ilmu perilaku terapan yang dibangun dengan dukungan
sejumlah disiplin perilaku. bidang –bidang yang menonjol adalah psikologi,
sosiologi, psikologi social, antropologi, dan ilmu politik.
1.
Menyikapi
Globalisasi
2. Mengelola Keberagaman Tenaga Kerja
3. Peningkatan Kualitas dan Produksivitas
4. Menyikapi Kelangkaan Tenaga Kerja
5. Peningkatan Layanan Pelanggan
Ada dua bidang yang harus di kuasai pada level ini yaitu manajemen diri
dan manajemen waktu.
1. Manajemen Diri
2. Manajemen Waktu
Variabel
– variabel dependen adalah faktor – faktor kunci yang akan dijelaskan atau
perkirakan dan yang terpengaruh sejumlah faktor lain. Hal ini lebih ditekankan
pada produktivitas, keabsena, pengunduran diri karyawan, kewargaan, dan
kepuasan kerja.
Variabel-variabel
independen ini terdiri dari variabel-variabel individu dan variabel-variabel
kelompok.
Variabel
– variabel individu. Terdapat empat variabel level – individu lain yang
terbukti mempengaruhi perilaku karyawan, persepsi, pengambilan keputusan
individu, pembelajaran, dan motivasi.
Variabel level kelompok merupakan perilaku
seseorang dalam kelompok melebihi jumlah total semua orang tersebut yang
bertindak sendiri. Langkah berikutnya untuk lebih mengerti tentang perilaku
organisasi adalah mempelajari perilaku kelompok.
Variabel
– Variabel Level Sistem Organisasi
Variabel – variabel level sistem organisasi adalah
perilaku organisasi menjangkau level tertinggi kecanggihan ketika kita
menambahkan struktur formal ke dalam pengetahuan kita sebelumnya tentang
individu dan berkelompok. Rancangan organisasi formal, proses kerja, dan pekerjaan;
kebijakan–kebijakan dan praktik–praktik sumber daya manusia (yakni, proses
seleksi, program–program latihan, metode–metode evaluasi kinerja), dan
kebudayaan internal semua berdampak pada variabel–variabel dependen.
Sumber:
Robbins, Stephen P. dan
Timothy A. Judge. 2008. Perilaku Organisasi Edisi ke-12, Jakarta:
Salemba Empat.