Jumat, 11 Mei 2012

Perilaku Organisasi

BAB I
APAKAH PERILAKU ORGANISASI ITU?

Perilaku Organisasi
Menurut Skiner (1938) seorang ahli psikologi, perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Sedangkan istilah organisasi menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian, “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.”
Perilaku organisasi adalah satu bidang studi. OB mempelajari 3 determinan dalam organisasi : Individu, kelompok, dan struktur. Di samping itu, OB menerapkan pengetahuan yang didapatkan tentang dampak individu, kelompok, dan struktur pada perilaku agar organisasi berjalan lebih efektif.
Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen yang  umum dikenal adalah menurut Henry Fayol yang terdiri dari empat, yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling.
1)    Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu.
2)  Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut.
3)    Pengarahan (actuating),menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif.
4)    Pengendalian (Controlling) atau pengawasan adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi.
Peran – Peran Manajemen
Otoritas formal yang dimiliki seorang pemimpin memunculkan tiga peran interpersonal (hubungan antar manusia), tiga peran informasional (berkaitan dengan informasi); dan peran desisional (berkaitan dengan pengambilan keputusan).
1)      Peran Interpersonal (Interpersonal Role)
Tiga peran pemimpin yang muncul secara langsung dari otoritas formal yang dimiliki pemimpin dan mencakup hubungan interpersonal dasar, yaitu:
a)         Peran sebagai yang dituakan (Figurehead Role)
b)        Peran sebagai pemimpin (Leader Role)
c)         Peran sebagai Penghubung (Liaison Role)
2)      Peran Informasional (Informational Role)
Dikarenakan kontak interpersonalnya seorang pemimpin muncul sebagai pusat syaraf bagi unit organisasinya. Pemrosesan informasi merupakan bagian utama (key part) dari tugas seorang pemimpin. Tiga peran pemimpin dalam aspek irformasional tersebut adalah sebagai berikut.
a)         Peran sebagai monitor (Monitor Role)
b)        Peran sebagai disseminator (Disseminator role)
c)         Peran sebagai Juru bicara (Spokesman Role)
3)      Peran Pengambilan Keputusan (Decisional Role)
Berkaitan dengan peran pemimpin sebagai pengambil keputusan terdapat empat peran pemimpin, yaitu:
a)         Peran sebagai wirausaha (Entrepreneur Role)
b)        Peran sebagai pengendali gangguan (Disturbance handler Role)
c)         Peran sebagai yang mengalokasikan sumberdaya (Resource allocator Role)
d)        Peran sebagai negosiator (Negotiator Role)
Robert L. Katz pada tahun 1970-an mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga keterampilan tersebut adalah:
Manajer tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi yang kemudian dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu yang terangkum dalam rencana kerja.
2)        Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Komunikasi yang persuasif harus selalu diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya sehingga membuat karyawan merasa dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan.
3)        Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat kursi, akuntansi dan lain-lain.
Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana.
5)        Keterampilan membuat keputusan
Merupakan kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager).
Empat kegiatan manajerial yang biasa dilakukan para manajer, yaitu :
1)      Manajemen tradisional (pengambilan keputusan, perencanaan dan pengendalian),
2)      Komunikasi (bertukar informasi rutin dan memproses dokumen),
3)      Manajemen SDM (memotivasi, mendisiplinkan, mengelola konflik, mengalokasikan staf dan melatih),
4)      Pembangunan jaringan (bersosialisasi, berpolitik dan berinteraksi dengan orang-orang luar).
Pendekatan sistematik yang digunakan dalam buku ini akan menyingkapkan fakta-fakta dan hubungan-hubungan penting serta akan memberikan dasar untuk membuat perkiraan-perkiraan tentang prilaku yang lebih akurat. Fondasi pendekatan sistematik ini adalah keyakinan bahwa perilaku itu tidak bersifat acak. Perilaku berasal dan diarahkan menuju satu titik akhir yang diyakini pelaku entah benar atau salah sebagai kepentingan terbaiknya. Perilaku umumnya dapat diperkirakan jika kita tahu bagaimana orang tersebut menyikapi situasi dan apa yang penting baginya.
Perilaku organisasai merupakan ilmu perilaku terapan yang dibangun dengan dukungan sejumlah disiplin perilaku. bidang –bidang yang menonjol adalah psikologi, sosiologi, psikologi social, antropologi, dan ilmu politik.
1.      Menyikapi Globalisasi
2.      Mengelola Keberagaman Tenaga Kerja
3.      Peningkatan Kualitas dan Produksivitas
4.      Menyikapi Kelangkaan Tenaga Kerja
5.      Peningkatan Layanan Pelanggan
Ada dua bidang yang harus di kuasai pada level ini yaitu manajemen diri dan manajemen waktu.
1.      Manajemen Diri
2.      Manajemen Waktu
Variabel – variabel dependen adalah faktor – faktor kunci yang akan dijelaskan atau perkirakan dan yang terpengaruh sejumlah faktor lain. Hal ini lebih ditekankan pada produktivitas, keabsena, pengunduran diri karyawan, kewargaan, dan kepuasan kerja.
           Variabel-variabel independen ini terdiri dari variabel-variabel individu dan variabel-variabel kelompok.
Variabel – variabel individu. Terdapat empat variabel level – individu lain yang terbukti mempengaruhi perilaku karyawan, persepsi, pengambilan keputusan individu, pembelajaran, dan motivasi.
Variabel level kelompok merupakan perilaku seseorang dalam kelompok melebihi jumlah total semua orang tersebut yang bertindak sendiri. Langkah berikutnya untuk lebih mengerti tentang perilaku organisasi adalah mempelajari perilaku kelompok.
Variabel – Variabel Level Sistem Organisasi
      Variabel – variabel level sistem organisasi adalah perilaku organisasi menjangkau level tertinggi kecanggihan ketika kita menambahkan struktur formal ke dalam pengetahuan kita sebelumnya tentang individu dan berkelompok. Rancangan organisasi formal, proses kerja, dan pekerjaan; kebijakan–kebijakan dan praktik–praktik sumber daya manusia (yakni, proses seleksi, program–program latihan, metode–metode evaluasi kinerja), dan kebudayaan internal semua berdampak pada variabel–variabel dependen.
Sumber: