Jumat, 19 Oktober 2012

Sekolah....masih perlukah??

Siang-siang gini kajian pendidikan...MANTAP mamen
tema kajian siang menuju sore ini adalah "Sekolah bubarkan saja!" katanya...

Melihat dari beberapa orang ilmuwan zaman dulu seperti Thomas A. Edison yang dikeluarkan dari sekolah tapi tetap dapat menjadi seorang yang berpengaruh melalui karyanya bagi dunia. Lantas bagaimana dengan sekarang?  Menurut Chu Dhiel dalam bukunya "Sekolah Bubarkan Saja!", ia berpendapat bahwa sekolah hanya membuat manusia berada di dunia khayalan karena mereka disibukkan dengan belajar di kelas tanpa mengaktualisasikannya.

Teori pendidikan kritis, yang salah satunya adalah Teori Paulo Freire, mantan menteri pendidikan Brazil. Menurut beliau, sekolah yang ideal adalah sekolah yang menekankan pada progresivitas atau kemajuan. Dia memberikan catatan penting bahwa lingkungan sekolah harus membuat siswa nyaman berada di sekolah layaknya di rumah (feel at home). Sekolah harus memberikan kenyamanan bagi siswa sehingga ketika berada di sekolah, siswa tidak merasa berada di penjara. Menurutnya, sekolah hanya institusi kapitalis yang menciptakan peraturan-peraturan aneh.

Dalam teori pendidikan kritis, guru dan murid disamakan sebagai subjek. Artinya baik siswa ataupun guru merupakan pembelajar. Namun, menurut saya tidak selamanya guru sebagai subjek, pun sama halnya dengan siswa. Peran dan posisi keduanya dapat difungsikan  menurut kondisi tertentu.

Menurut kaum pragmatis, pendidikan tidak penting karena tidak memberikan manfaat secara langsung. Baig mereka suatu hal yang dikerjakan harus memberikan manfaat langsung atau praktis bagi kehidupan.

Dalam hal ini, yang harus kita benahi adalah mindset kita (baca: seluruh bangsa) bahwa sekolah bukan hanya untuk menghasilkan selembar ijazah sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, tetapi setiap insan memang membutuhkan ilmu. Saat ini, orang memang lebih mengandalkan Bang Google untuk membantu mengerjakan tugas sebagai bahan referensi daripada mencari dan membaca buku secara langsung. Namun, disadari atau tidak, dorongan dari semakin canggihnya teknologi semakin mendorong kita untuk belajar lebih. Setidaknya, keberadaan sekolah memaksa kita untuk terus belajar.

Jadi, kesimpulannya adalah kita tidak perlu menghilangkan atau membubarkan sekolah. Tapi yang harus dibenahi di sini adalah semua hal mengenai pendidikan mulai dari tujuan pendidikan sampai kegiatan praktis dalam pembelajaran.

Wallahu a'lamu

Rabu, 17 Oktober 2012

Manusia boleh berencana, tapi manusia tak bisa menentukan

Manusia boleh berencana dan berusaha, namun pada akhirnya kita belum tahu hasilnya akan seperti apa. ya, seperti itulah statement pertama saya yang ingin saya share-kan di sini. Begitu banyak keinginan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya untuk melukiskan sejarah hidupnya. Namun tidak setiap harapan  mereka itu dapat tercapai. Kenapa? karena hidup kita bergantung pada Dzat Yang Maha Kuasa. Awal mula ada tulisan ini karena salah satu harapan yang pernah saya tuliskan yang mungkin tidak akan tercapai. Tapi sebenarnya harapan ini tidak membuat saya terobsesi karenanya, harapan itu pun tidak begitu saya kejar. saya hanya melihat, melaksanakan, dan mengingatkan orang lain yang perlu untuk diingatkan. Saya pun tidak begitu memikirkan, "kenapa harapan saya tidak tercapai?". serius...
Apa sih harapan saya yang tidak tercapai itu?? Yaaa, ada lah, tapi yang harus saya pikirkan dan kerjakan sekarang adalah apa mimpi saya selanjutnya? Dan itulah yang harus saya kejar sekarang. Yupz... ngga bisa kalau kita hanya menanyakan kenapa tidak tercapai tanpa mengusahakan mimpi kita yang lain agar dapat segera terwujud.
Ayooo... Bersemangat untuk mewujudkan mimpi. Karena tanpa ada usaha, sekuat apa pun kita berdoa, mimpi itupun akan semakin menjauh dari hidup kita. Begitu pun sebaliknya, ketika kita usaha dengan ambisi yang kuat tanpa doa, tekanan yang berlebihan akan kita rasakan karena seperti judul di tulisan ini, "manusia boleh berencana, tapi manusia tak bisa menentukan".
Berikut ini adalah tulisan teman saya, "Tapi, pada hakikatnya, ketentuan Tuhan didasari atas bagaimana usaha manusia meniti jalan pada sebuah "ketetapan" yang diharapkannya. Menanam benih durian, tidak mungkin berbuah pisang. Begitulah takdir Tuhan bekerja. Sama halnya dengan janji Tuhan untuk kemenangan Islam di Mekah dahulu. Janji-Nya, disambut oleh Rasul, bukan dengan berpangku tangan serta berdiam diri. Kerja Rasulullah dan para sahabatnya, menyongsong janji-Nya. Artinya, ada sinergi antara janji, harapan, dan kinerja. Ketiga unsur ini mesti bersahabat dan dalam satu nada yang harmoni. Dengan hal ini, maka, sesungguhnya manusia bisa menentukan takdirnya sendiri. Tentu, "tangan Tuhan" selalu ada menuntun. Sesuai sabda-Nya, ia hanya akan mengubah, jika manusia mengubah."
Saya sepakat dengan tulisan di atas. Bukan karena tak punya alasan, karena logisnya memang tak mungkin bisa menghasilkan pohon kalau yang kita tanam adalah rumput.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Latihan Kepemimpinan Mahasiswa ^_^

Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM) yang saat ini (13/10) dilaksanakan di HIMAPENA (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Manajemen Perkantoran) mengingatkan saya ketika mengikuti LKM 3 tahun yang lalu, ketika saya masih menjadi mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia.
Saat itu saya ingat bahwa saya masih menjadi seorang mahasiswa yang tertunduk malu untuk mengungkapkan pendapat, saran, interupsi, sanggahan atau apa pun itu namanya. Terasa betul ketika saat itu kerongkongan terasa kaku untuk berucap, tangan pun terasa mempunyai beban 5 kg sehingga berat untuk mengangkat tangan. Yaa saya merasakan itu dan sekarang saya sudah bisa berbicara di depan publik walaupun terkadang awalnya sedikit deg-degan, tapi ke depannya mah insya Allah lancar, yang penting punya materi yang akan dibicarakan dan kita paham itu.
Saya merasa bahwa saat ini saya bisa mengajar di kelas (selain dari tuntutan), bicara di depan publik, itu karena saya merasakan indahnya mengikuti seluruh kegiatan dan yang dilaksanakan kaka tingkat saya dulu. Selain itu, saya pun mengikuti kegiatan di luar Himpunan karena saya merasa haus akan kegiatan yang membuat saya bisa kenal orang lebih banyak, tau info lebih banyak, dan juga pengalaman yang lebih banyak.
Saya merasa beruntung walaupun terkadang saya sulit untuk berkumpul dengan teman-teman secara intensi, agak kesulitan mencari waktu untuk mudik (dan alhamdulillah orangtua saya tidak pernah mempermasalahkan kegiatan saya sejauh saya dapat menjelaskan tentang kegiatan apa saja yang saya ikuti).
Dalam sidang kali ini, saya pun melihat raut wajah kebingungan dari adik-adik tingkat saya (mungkin dulu saya juga gitu kali yaaa...). Bingung, ga ngerti harus gimana, pusing banyak pro kontra, ganti keputusan atau tidak. yaa...tapi semua itu membuat kita lebih kritis, kenapa gini, kenapa ga gitu? pusing kan?? ya tapi itu yang justru saya suka, mempertahankan pendapat dengan mekanisme yang jelas.
Saya ingin memberitahukan bahwa selain sidang, di LKM ini pun kita juga belajar tentang manajemen aksi dan simulasinya, debat, dan masih banyak lagi.. Makanya, nyesel deh bagi kalian yang ga merasakan hal itu (eh...kegiatan ini kan wajib buat seluruh mahasiswa baru ya??!!). Siiiiiippp
Bagi siapapun yang mungkin membaca tulisan ini pasti ada yang percaya atau tidak bahwa organisasi itu mempunyai pengaruh yang besar bagi kehidupannya. mau tau ada manfaatnya atau tidak?? silakan rasakan langsung, terjun ke dalam dunia organisasi dan buktikn ada manfaatnya atau tidak?! hehehehe......
Kalau ada mahasiswa baru yang membaca tulisan ini, saya sarankan untuk mengikuti banyak kegiatan selama masih menjadi mahasiswa S1 karena ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk bekal kehidupan kita selanjutnya. Ingat lhooo nyesel itu diakhir, bukan diawal. Jadi silakan renungkan matang-matang (tapi jangan terlalu lama yaaa, nanti keburu habis waktunyaaa).
Menurut kakak tingkat saya (yang baru lulus), beliau mengatakan bahwa organisasi memiliki pengaruh yang sangat besar ketika terjun ke kehidupan nyata (baca: kehidupan masyarakat). Bahkan ada yang menyebutkan bahwa hanya 20% ilmu yang dipelajari di bangku kuliah yang akan berpengaruh dalam kehidupan kita selanjutnya. Tapi bukan berarti kita meninggalkan kuliah juga yooo...

Rabu, 03 Oktober 2012

Sore-sore gini kantin JakNas



Sore ini saya ikut kajian, tapi saya ga mengeluarkan argumen apapun, bukannya tidak mau, tapi saya bingung...sebenarnya masalah yang dibahas sore ini bukan masalah yang asing lagi.. kenapa sistem di Indonesia seperti ini? kenapa kebijakan di Indonesia seperti ini? dan akhirnya saya bingung mau berargumen apa....

Dan kajian Kementrian Luar Negeri BEM REMA UPI Kabinet UPI Positif sore ini, Rabu, 4 Oktober 2012 adalah Energi, Keadilan, dan Kedaulatan dengan pemateri Ramadhani Pratama Guna, ST.

Dan inilah hasil tangkapan saya dari mengikuti kajian tersebut....

Indonesia masih kaya akan minyak bumi...

2001---> UU No. 22 tahun 2001 tentang migas yang menjadi titik tolak perparahan pengelolaan migas. mengapa??

UU No. 22 tahun 2001 ini disahkan pada masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid.
oil lifting in Indonesia 1.050.000 barrel. jumlah ini dibagi untuk pertamina 2/3 bagian (dari jumlah ini, Indonesia mengimpor 1/2 bagian dari jumlah yang diterima pertamina untuk memenuhi kebutuhan minyak di indonesia) dan 1/3 bagian minyak mentah diekspor ke perusahaan yang memiliki aset di Indonesia.

Kebijakan SBY-Boediono:
* Indonesia mengimpor minyak mentah dan juga minyak jadi (BBM)


Recovery cost: gambarannya, Indonesia menerima pajak dari para pengolah, tetapi Indonesia yang membiayai biaya operasional mereka.
Blok Natuna: cadangan terbesar di Indonesia
Blok Mahakam: juga cadangan terbesar, dikelola oleh 

"Perampokan migas" dilihat dari UU no 60 tahun 1960 diganti dengan UU no. 22 tahun 2001

*UU No 25 tahun 2007 tentang penanaman modal --> pemilik modal diperbolehkan menguasai lahan selama 95 tahun (pada masa raffles 45 tahun, pada masa Hindia Belanda 75 tahun)
* masalah gas tangguh (jual murah ke China)
* kasus gas Donggi-Senoro (diserahkan ke Mitsubishi)
* Kasus WMO (perusahaan bodong)
* kasus blok semai V (Amerada HESS)
* Kasus Natuna D-Alpha (Exxon 100% sejak 1980n)

haduuuuuhh bodor yaaa....belibet pisan...
jadi sebenarnya di Indonesia ini harus seperti apa? generasi muda Indonesia masih banyak PR nih..turunan dari orang-orang terdahulu dan tantangan masa depan yang harus dihadapi..
Hidup Mahasiswa!!
Hidup Pemuda Indonesia!!