Senin, 25 Maret 2013

Jumat WOWBGT

Cerita ini sebenarnya ingin saya tulis sejak hari Jumat malam yang lalu. Tapi, rasa kantuk, lapar, dan lain-lainnya membuatku untuk merelakan membuat tulisan ini di lain waktu.. Yaa, mungkin sekaranglah waktunya. Mau tau, mau tau?? check it out!
Hari Jumat lalu (22/3) buat saya adalah amazing day. Pagi-pagi seperti biasa saya pergi ke sekolah untuk mendampingi salah seorang siswa yang perlu bantuan akademiknya hingga jam 2. Hari itu adalah hari terakhir Science and Math Fair 2013 yang diselenggarakan sekolah. Secara konten materi, hari itu tidak padat materi. Namun, yang paling seru adalah ketika peluncuran roket air, karena setiap kelas ikut meluncurkan jadi banyak banget. Wow banget lah!!
Selesai dari sekolah, harusnya mah ngampus ya, ada rapat. Tapi berhubung udah ada janji untuk ngajar di RKBS, jadinya ngga datang rapat deh. Ba'da asar pergilah ke RKBS diantar adik tingkat yang begitu baik, Nircan heuheu. Ngajar di RKBS pun adalah pengalaman yang W.O.W.B.G.T. Anak-anak disana sungguh super duper. Harus penuh dengan kesabaran dan pengertian. Alhamdulillah, melalui RKBS, saya menyalurkan apa yang saya sukai. Yes, I like math. Tak banyak waktu untuk mengajar di sana hanya sampai waktu maghrib.
Setelah sholat maghrib di sana seorang diri, kulangkahkan kaki menuju tempat lain dengan langkah gontai. Gelap, cukup sepi, ya seperti itulah kondisi daerah Gegerkalong ujung (ada gitu?). Hmmm berjalan sambil sms-an. Janji bertemu dengan seorang teman yang memintaku untuk mengantarnya pergi ke pusat elektronik di Bandung.
Singkat cerita, kami sudah sampai di tempat yang dituju. Keliling dari toko yang satu ke toko yang lainnya, dari merk yang satu ke merk yang lainnya, dari harga yang satu ke harga yang lainnya. Pandangan pertama memang sulit terlupakan yaaa, itu pula yang terasa saat itu, sebuah laptop yang pertama kali terlihat, sempat berkeliling naik turun tangga. Namun, yang pertama lah yang menjadi pilihan. Tak terasa waktu di jam tangan sudah menunjukkan pukul 8.00 p.m sedangkan waktu untuk menginstal driver laptopnya ditambah aplikasi-aplikasi yang lain itu membutuhkan waktu yang cukup, kurang lebih satu sampai dua jam. dan toko gedung ini tutup pada jam 9.00 p.m. Sebenarnyaa bisa mungkin ya, jadi pas waktunya, hanya saja entah apa, ada yang harus ditunggu dulu sebentar. Tadinya kita memutuskan untuk meng-install driver-nya di kostn saja. Insya Allah bisa. Tapi mungkin karena jawaban kita kurang meyakinkan, akhirnya yang punya toko mengusahakan untuk menginstall semuanya saat itu juga.
Alhasil, semuanya baru selesai sekitar jam 9.30 p.m. (astaghfirullah, terlalu malam bagi perempuan berada dii luar, lindungilah kami yaa Rabb). Gedung pun sudah tutup, dan untuk pertama kalinya kami keluar gedung lewat jalan darurat. the first experience. Ketika di luar gedung, tentu kami langsung mberjalan untuk mencari angkot yang searah dengan tempat kost kami. Berhubung gedung seberang yang biasa dipake nyebrang tutup, kami terus melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan yang tidak biasa. Selangkah demi selangkah sambil berpikir, keraguan mulai hinggap dalam pikiran kami. Setelah sedikit berpikir, kami memutuskan untuk kembali dan memilih jalan yang lain. Baru berbalik badan, ternyata pemilik toko bersama karyawannya berada di depan kami. Mungkin dari tadi mereka ada di dibelakang kami.
Mereka membantu kami untuk mengarahkan kami pulang. Bahkan pemilik toko itu mengantarkan dan menunggui kami hingga kami naik angkot, sempat menawarkan untuk membawa barang juga, tapi kami tolak dengan baik-baik. W.O.W lagi deh.
Hari ini, pengalaman di sekolah yang seru dengan anak-anak, ngajar di RKBS untuk pertama kalinya, keluar gedung melalui pintu darurat untuk pertama kalinya, juga bertemu dengan pemilik toko yang baik sampai-sampai mengantar kami higga naik angkot. dan Alhamdulillah kami sampai di kostn dengan selamat (Maha Pelindung Allah yang menghantarkan kami di kostn dengan selamat). Sesaat sebelumnya kami sempatkan membeli beberapa makanan dan minuman karena lapar dan haus yangdari siang tadi kami hiraukan. Jumat yang luar biasa. ^_^
Semangat untuk hari-hari ke depan yang lebih baik, bermanfaat dan bermakna untuk orang lain. Namun, janganlah menghiraukan aturan yang ada pada dirimu sendiri demi keselamatan dirimu.
Tomorrow is better life.

Rabu, 13 Maret 2013

BEM REMA UPI... I proud of you.



BEM REMA UPI... I proud of you.

Sebenarnya saat ini saya ga tau harus nulis apa, tapi ingin sekali jari ini menekan tombol-tombol hitam bertuliskan huruf-huruf yang bisa menjadikannya sebuah kata, kalimat, paragraf, cerita pendek, atau bahkan buku tebal sekalipun. Namun, terkadang ada saja tulisan yang mungkin salah ketik sehingga sedikit aneh ketika dibaca atau bahkan bisa jadi salah persepsi. Kalau dipikir-pikir, seperti itu pulalah organisasi. Sebuah organisasi tersusun atas elemen-elemen di dalamnya. Berkumpulnya manusia-manusia yang memiliki keunikan dirinya masing-masing, namun memiliki arah atau tujuan yang sama. Mereka memiliki keinginan yang sama untuk berorganisasi walau entah apa yang menjadi alasannya. Yang pasti, mereka mau meluangkan waktunya untuk sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh manusia lainnya.
BEM REMA UPI, sebuah nama yang juga tersusun atas orang-orang, mahasiswa-mahasiswa, yang juga memiliki keunikan masing-masing namun bersama-sama bergerak untuk arah yang disebutkan dalam visi POSITIF. Ya, merekalah orang-orang luar biasa yang rela memberikan separuh waktunya (atau mungkin lebih yaa?) untuk memikirkan orang lain. Tugas kuliah yang bejibun,  tugas kostn yang seabrek, dan tugas-tugas lainnya yang sama-sama harus mereka selesaikan dapat mereka seimbangkan dengan dunia organisasi dengan dinamika yang tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan organisasi di BEM REMA UPI ini melelahkan, namun keinginan mengabdi, berkarya, dan melayani orang banyak menempati ruang yang lebih luas dibandingkan rasa lelah itu.
BANGGA. Ya, rasa bangga menyelinap ke dalam relung jiwa. Bangga bisa kenal lebih dekat dengan orang-orang hebat yang tak gentar dengan ujian karena mereka yakin bahwa ujian adalah hal yang bisa membuatnya lebih kuat, sabar, dan Allah SWT lah tempat untuk mencari perlindungan.
Senang, susah, ceria, murung, kesal, kecewa, semua rasa telah dilalui bersama mereka. Sejarah hidup yang tak mungkin dapat terlupakan begitu saja, kecuali kalau hilang ingatan yaa. Namun, janganlah semua yang telah dilalui itu berlalu tanpa makna. POSITIF _Progresif-Sinergis-Solutif-Kontributif_ tidak hanya sebuah visi organisasi, namun tetaplah menjadikannya sebuah penyemangat untuk berarti.
Semakin tinggi  pohon, semakin kencang angin menerpa. Peribahasa itu memang tepat. Organisasi setingkat universitas yang kini mencoba berjalan untuk menembus dunia luar ini tidak serta merta berjalan dengan lurus layaknya jalan tol. Kerikil-kerikil halus, batu-batu besar dengan jalan berkelok yang terjal pun menjadi tantangan tersendiri bagi setiap organisasi, khususnya BEM REMA UPI. Ternyata manajemen memang ilmu yang mantap. Hal apapun tak lepas dari manajemen, termasuk untuk menghadapi terjalnya jalanan yag berkerikil berbatu. Namun, hal itulah yang akan menjadikannya lebih kuat, kokoh.
BEM REMA UPI. Kontradiktif, cercaan, tuduhan, itu semua tak mengurangi rasa banggaku padanya, pada orang-orang di dalamnya karena mereka tak tahu bagaimana usaha kita mencoba untuk mengabdi, melayani. Walaupun begitu apapun yang mereka katakan semoga menjadi penyemangat untuk terus berbuat yang lebih baik lagi.
BEM REMA UPI... I proud of you.

Dulu dan Sekarang

tulisan untuk antologi BEM REMA UPI


Dulu dan Sekarang

“Waaah keren ya kalau bisa jadi pengurus BEM REMA,”
“Ko’ bisa ya mereka tampil di depan sambil bicara dengan penuh keyakinan,”
“Seru ya bisa kenal dengan teman-teman se-UPI (mewakili walaupun hanya beberapa),”
“Enak juga ya bbisa dikenal orang lain,”
“Keren, wawasannya luas,”
“Wow, acaranya seru seru. Kalau mau ikut gimana ya?”
Bla bla bla bla bla bla bla bla bla ba bla
Ya, mungkin 1001 alasan yang membuatku untuk menuliskan cita-citaku menjadi pengurus BEM REMA UPI di masa mendatang. Dan kini harapan itu telah nyata. Menteri Sekretaris Kabinet (wah, apaan tuh?). Dan itulah saya sekarang. Ya Allah memang sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika saya berpikir bahwa saya akan menjadi pengurus BEM, ketentuan Allah pun berbicara bahwa saya memang berada di BEM sekarang.
Ketika saya dilantik menjadi pengurus BEM REMA UPI 2012 ini. Saya merasakan beratnya beban yang harus saya topang agar seluruhnya dapat berjalan dengan baik. Bagaimana tidak, sebelum dilantik menjadi pengurus BEM REMA, saya dan beberapa teman tergabung dalam tim formatur kepengurusan BEM REMA UPI. Dari sana saya melihat ternyata organisasi setingkat universitas pun tidak begitu banyak diminati. Pergerakan yang bisa membawa dampak tidak hanya bagi kampusnya, tetapi untuk Indonesia, ini hanya digerakkan oleh sekelompok pemuda saja. Owh, seperti ini BEM REMA. Tapi menurut saya, sebenarnya banyak di luar sana yang masih tertarik dengan organisasi semacam ini. Entah dari mana datangnya pikiran itu. Mungkin karena sebenarnya setiap mahasiswa yang baru menginjakkan kakinya di dunia kampus merasa bahwa ini dunia baru yang harus dia taklukkan. Hanya saja perjalanan menuju “penaklukkan dunia kampus ini” dirasakan cukup panjang dan banyak hal yang mereka lalui sehingga perhatian mereka teralihkan kepada hal lain yang membuatnya enggan untuk meninggalkannya. Baik itu oranisasi lain, ataupun kehidupan baru yang memamerkan keindahan/ kesenangan pribadi. Yaaa dan mungkin itulah pilihan yang mereka ambil.
Lalu akan dibawa ke arah mana cerita saya ini? Ya, itulah hal pertama yang saya rasakan ketika sebelum dan sesudah menjadi pengurus BEM REMA UPI. Hal kedua yang mempunyai kesan tersendiri bagi saya adalah “tercapai, namun tak sesuai”. Ya, itulah saya. Beberapa kali dalam hidup saya yaitu tujuan umum saya tercapai, namun tak diikuti dengan ketercapaian tujuan khusus saya (asa belibet gini ini teh....). Saya berada di program studi yang bukan menjadi harapan saya, namun UPI memang tujuan saya. Kini, saya berada di kementrian yang bukan merupakan pilihan saya, tapi BEM REMA UPI adalah tujuan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud mengeluh tapi ini justru membuat saya berpikir bahwa ini rencana terbaik-Nya. Setiap apapun yang menjadi ketentuan-Nya memang sudah sepatutnya kita terima walaupun terkadang kondisi mengeluh itu muncul.
Sebenarnya saya bingung dengan jalan cerita saya sendiri. Ini bukan cerpen apalagi novel terlebih lagi komik (yaiyaalah ga ada gambar  sedikit pun). Ini hanyalah uraian singkat saya ketika menjadi pengurus BEM REMA UPI. Terlepas dari itu, bahagia itu tak harus santai, ceria itu tak harus luang, karena ternyata dalam kondisi sibuk, dalam padatnya waktu, kita masih bisa merasakan bahagia dengan mereka yang sama-sama berjuang tidak untuk dirinya sendiri. Yang tak hanya memikirkan saya saya saya dan saya tapi memikirkan apa manfaat yang bisa kita berikan untuk orang banyak.
Bagaimana pun kesenggangan antara pikiran saya dulu tentang BEM dan realitas yang kini saya rasakan ketika menjadi pengurus BEM tidak membuat saya mampu untuk menghindar dari kehidupan organisasi saya sekarang ini. Seberat apapun tantangannya, harapannya adalah Allah memberikan pundak yang kuat untuk menopang seluruh beban ini hingga akhir tiba.

Rabu, 06 Maret 2013

cerita dibalik 1500



Apa yang akan kamu lakukan terhadap uang senilai Rp 1.500,- yang kamu miliki? Apa aja yang bisa kamu beli dengan uang ini? Hmmm...mungkin air mineral botol kecil, setusuk cilok goreng (sisa 500), beli penghapus, beberapa permen, satu gehu pedas, hmm...apa lagi ya? Ga mudah memang untuk membelanjakan uang 1500 di zaman sekarang yang mungkin tidak begitu memiliki nilai yang tinggi. Bahkan beli pulsa pun tak cukup.
Saya pernah punya satu cerita tentang uang senilai 1500 rupiah. Suatu saat ketika saya bermaksud untuk pulang kampung, saya tidak begitu memperhitungan berapa ongkos yang akan dikeluarkan. Saya pikir sama aja, ga ada yang berbeda. Dengan langkah santai, saya pun naik angkot dan tiba di terminal. Hampir saja naik minibus, si Bapa Kondekturnya bilang,”Wah, neng sekarang mah 15.000,-, untuk dua hari ini“
Saat itu saya pikir, “Ya emang kenapa pa kalau 15.000? masalah?” Namun, kurogoh juga saku-saku tasku dan dihitunglah semua uang yang ada. Alhasil, uang yang ada hanya 13.500  rupiah. Asli, kaget setengah mati. “Trus gimana bisa pulang? Jalan kaki mah ga mungkin eung”. Putar otak, bagaimana pun juga harus tetap pulang, tapi gimana cara ngedapetin uang 1.500 nya? Pikir lagi... pikir lagi...”apa nawar aja ke Bapa  Kondekturnya yaa?? Ah tapi ga enak.” Hmmm....ayoooo pikir lagi. Buka-buka hape dan mulai mencari siapa yang bisa dihubungi. Mulai dari teman yang tinggal lumayan dekat dengan daerah itu. “Oh, no ternyata dia masih sedang di kampus”. Teman kostn yang juga sama-sama akan pulang. ”Sip. Dia mau pulang, tapi masih di kostn yaa berarti harus menunggu sampai dia datang.” Setelah menunggu yaa sekitar seperempat jam coba dihubungi lagi, ternyata dia masih di kostn. Astaghfirullah, gimana ini?! Akhirnya dicobalah menghubungi sahabat-sahabat yang tadi sempat bersama sebelum saya pulang. Kaget, iya, mereka kaget. Saya coba meminjam uang 1.500 rupiah tentu tak bisa diambil dari atm, berarti saya pinjam 50.000 rupiah. Alhamdulillah, ada yang bisa meminjamkan. Kukirimkan no rekening yang sebelumnya ku dapatkan dari kakakku di rumah –sempat dikira mau ditipu, benar ini adiknya atau buka- tanpa memberitahukan kenapa meminta no rekening tabunganku sendiri. Maklum, lupa dan tak ingin membuat mereka cemas.
Kulangkahkan kaki menuju atm bersama. Alhamdulillah transferan sahabatku sudah bisa kuterima, yes pulang deh. Beberapa detik slip saldonya keluar. Kulirik sesaat angka saldonya 199.xxx. “Hmm berapa yang mereka kirimkan? 200.000? Bukannya saya Cuma pinjam 50.000? kulihat baik-baik slip tadi. Jreng jreng (kalo ada suara gitar), mataku terbelalak. Bukan 199.xxx tapi 1.99x.xxx (hampir dua juta). Kupikir baik-baik, uang siapa ini? Kenapa bisa ada di rekening tabunganku? apa ini uang beasiswa? Nominalnya mirip dengan uang beasiswa. Alhamdulillah. Dengan nada dan raut yang masih bingung kuhubungi sahabatku dan kuceritakan apa yang telah terjadi. “Ada-ada aja.” “Rempong ente.” “hati-hati eh, lalawora pergi-pergian ga bawa uang”. Hehee... Ya macam-macamlah. Kuhubungi pula sahabatku yang juga menjadi penerima beasiswa tahun ini. Ternyata benar, itu adalah uang beasiswa yang sebenarnya sudah cair sejak awal bulan dan aku baru tahu sekarang, akhir bulan. Kebayanglah gimana perasaanku saat itu. Senang, sedih, malu, kaget, rempong, semuanya campur aduk jadi satu. Mau senyum-senyum, tapi mau nangis juga. Alhamdulillahirobbil’alamiin
Hmm..akhirnya aku tetap pulang dan tetap menunggu teman kostnku hampir 2 jam. Tak mau kutinggalkan dia begitu saja setelah uang telah kudapat. Bersama-sama naik bis dan setelah membayar, ternyata ongkosnya hanya 10.000 rupiah. Deg. Jadi sebenarnya aku bisa pulang dari dua jam yang lalu tanpa harus merepotkan banyak orang. Hmm..tapi kucoba mengambil hikmah dari kejadian sore ini. Kalau saja tadi tidak mereasa kurang uang, aku sudah naik minibus dan akan merasa ketika membayar dan itu pasti malu banget. Kalau saja tadi tidak minta untuk ditransfer, mungkin aku tak pernah tau kalau ada uang di rekening tabunganku. Dan yang pasti kau tak perlu menerima uang dari orang tuaku. Setidaknya sampai uang itu habis. Alhamdulillah, sedikit meringankan mereka.
Alhamdulillah, setelah dijemput kakakku sampailah di rumah, makan mie ayam traktiran kakakku (aku yang dijemput, aku juga yang ditraktir, kebalik) dan cepat istirahat karena kepalaku begitu pusing. Keesokan harinya kuceritakan apa yang terjadi kepada keluargaku. Kaget, heran, lucu, sempat cemas, ya begitulah keluargaku. “Kalau ga punya uang, bilang, jangan menyiksa diri”, itulah kata-kata  yang keluar dari mereka. Hmm. Keluarga kecilku (bapa, ibu, kakak), i love you so much!! Alhamdulillah tiada terkira untuk Rabb-ku.
J

LOE..GUE..END!!



Mulai sekarang, kita putus tus tus!!

Ya udah..LOE GUE END!!

Pernahkah kamu mendengar kata-kata di atas? Langsung atau tidak langsung? Pernah donk pastinya... Siapa sih yang biasanya bilang gitu? Hmmm kalo lihat di tv sih kaya yang lagi punya hubungan terus putus dengan berbagai alasannya. Eh, tapi sekarang kata-kata itu udah terlalu sering jadi guyonan ya?? Hmmm... 
Ya, seperti itu juga mungkin yang akan terjadi kalau kebijakan para pejabat kampus tidak banyak mempertimbangkan atau melihat unsur seluruh civitas akademika, ya lebih khususnya lagi mahasiswa yang notabene kurang dilibatkan (baca: tidak dilibatkan) dalam perumusan setiap kebijakan kampus yang akan berdampak pada seluruh masyarakat kampus. Di satu sisi, mahasiswa adalah stakeholder terbesar untuk sebuah kampus, namun di sisi lain mahasiswa tidak dapat bagian untuk setidaknya mengetahui secara lebih dini tentang apa saja kebijakan-kebijakan yang akan diterbitkan (bukan setelah diterbitkan) pejabat kampus.
Entah kenapa, akhir-akhir ini muncul satu persatu masalah yang menyangkut kepada kesejahteraan mahasiswa. Setelah di pertengahan tahun lalu ada kasus DO paksa oleh pihak kampus kepada salah seorang mahasiswa, kini jumlah itu sudah meningkat hingga enam orang mahasiswa yang mendapatkan surat cinta yang pahit dari pihak kampus. Surat cinta pahit? Ya, itu mungkin nama yang saya berikan untuk surat yang dilayangkan rektorat kepada enam mahasiswa tersebut. Bukan surat DO (karena memang kampus tak pernah ingin men-DO-kan mahasiswanya), namun surat yang bertujuan agar mahasiswa membuat surat pengunduran dirinya secara sukarela. Kenapa DO? Ya karena mereka tidak melakukan  registrasi selama 2 semester berturut-turut. Lantas dimana letak kesalahannya?
Kenapa seperti ini? Ya, inilah kampusku. Ia memang sedang ingin menegakkan aturan yang telah disusunnya selama beberapa tahun ke belakang. Sayangnya, ia masih belum bisa berdiri tegak karena ketika ia mulai berdiri, belum ada penopang yang mampu membantunya untuk tetap berdiri dengan kokohnya. Maksudnya? Ya, aturan itu memang sedang coba di tegakkan tapi beberapa unsur yang menopangnya masih belum paham dalam penegakkan aturan ini. Belum ada sosialisasi yang merata kepada seluruh civitas akademika khususnya mahasiswa. Belum siapnya sumber daya manusia yang mengurusi aktivasi mahasiswa. Belum ada tindak lanjut/ perhatian yang diberikan kampus kepada mereka yang pernah tidak registrasi selama satu kali untuk mengingatkan adanya aturan 2x tidak registrasi = DO. Belum optimalnya peran dosen PA dalam membimbing mahasiswanya termasuk dalam hal advokasi mahasiswa.
Ketika ada yang melanggar aturan, memang harus ada sanksi yang diterimanya. Ketika ada kewajiban yang tidak dijalankan, memang tak ada hak baginya. Namun, bila melihat dari ketidaksiapan kampus dalam menegakkan aturan yang telah dibuatnya tersebut, ada hal lain yang harus disiapkan sebelum aturan itu benar ditegakkan. Setiap orang yang akan mungkin terkena sanksi harus paham (setidaknya mengetahui) terlebih dahulu dengan adanya aturan tersebut. Setiap orang yang berada dalam lingkungan tersebut (misalnya dosen PA) harus paham tentang peran dan fungsinya. Adanya pengawasan dalam pelaksanaannya. Adanya perhatian lebih untuk mengelola sistem pendukungnya.
Ketika setiap elemen sudah tahu (paham) dengan aturan tersebut. Tentu dukunganlah yang harus kita berikan untuk menegakkan aturan tersebut tanpa penolakan (yang rasional).
Jika kondisi ini sudah dapat terealisasi dengan baik, slogan ‘LOE GUE END’ akan berubah menjadi ‘LOE IS NEVER END’,kampusku!