Rabu, 13 Maret 2013

Dulu dan Sekarang

tulisan untuk antologi BEM REMA UPI


Dulu dan Sekarang

“Waaah keren ya kalau bisa jadi pengurus BEM REMA,”
“Ko’ bisa ya mereka tampil di depan sambil bicara dengan penuh keyakinan,”
“Seru ya bisa kenal dengan teman-teman se-UPI (mewakili walaupun hanya beberapa),”
“Enak juga ya bbisa dikenal orang lain,”
“Keren, wawasannya luas,”
“Wow, acaranya seru seru. Kalau mau ikut gimana ya?”
Bla bla bla bla bla bla bla bla bla ba bla
Ya, mungkin 1001 alasan yang membuatku untuk menuliskan cita-citaku menjadi pengurus BEM REMA UPI di masa mendatang. Dan kini harapan itu telah nyata. Menteri Sekretaris Kabinet (wah, apaan tuh?). Dan itulah saya sekarang. Ya Allah memang sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika saya berpikir bahwa saya akan menjadi pengurus BEM, ketentuan Allah pun berbicara bahwa saya memang berada di BEM sekarang.
Ketika saya dilantik menjadi pengurus BEM REMA UPI 2012 ini. Saya merasakan beratnya beban yang harus saya topang agar seluruhnya dapat berjalan dengan baik. Bagaimana tidak, sebelum dilantik menjadi pengurus BEM REMA, saya dan beberapa teman tergabung dalam tim formatur kepengurusan BEM REMA UPI. Dari sana saya melihat ternyata organisasi setingkat universitas pun tidak begitu banyak diminati. Pergerakan yang bisa membawa dampak tidak hanya bagi kampusnya, tetapi untuk Indonesia, ini hanya digerakkan oleh sekelompok pemuda saja. Owh, seperti ini BEM REMA. Tapi menurut saya, sebenarnya banyak di luar sana yang masih tertarik dengan organisasi semacam ini. Entah dari mana datangnya pikiran itu. Mungkin karena sebenarnya setiap mahasiswa yang baru menginjakkan kakinya di dunia kampus merasa bahwa ini dunia baru yang harus dia taklukkan. Hanya saja perjalanan menuju “penaklukkan dunia kampus ini” dirasakan cukup panjang dan banyak hal yang mereka lalui sehingga perhatian mereka teralihkan kepada hal lain yang membuatnya enggan untuk meninggalkannya. Baik itu oranisasi lain, ataupun kehidupan baru yang memamerkan keindahan/ kesenangan pribadi. Yaaa dan mungkin itulah pilihan yang mereka ambil.
Lalu akan dibawa ke arah mana cerita saya ini? Ya, itulah hal pertama yang saya rasakan ketika sebelum dan sesudah menjadi pengurus BEM REMA UPI. Hal kedua yang mempunyai kesan tersendiri bagi saya adalah “tercapai, namun tak sesuai”. Ya, itulah saya. Beberapa kali dalam hidup saya yaitu tujuan umum saya tercapai, namun tak diikuti dengan ketercapaian tujuan khusus saya (asa belibet gini ini teh....). Saya berada di program studi yang bukan menjadi harapan saya, namun UPI memang tujuan saya. Kini, saya berada di kementrian yang bukan merupakan pilihan saya, tapi BEM REMA UPI adalah tujuan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud mengeluh tapi ini justru membuat saya berpikir bahwa ini rencana terbaik-Nya. Setiap apapun yang menjadi ketentuan-Nya memang sudah sepatutnya kita terima walaupun terkadang kondisi mengeluh itu muncul.
Sebenarnya saya bingung dengan jalan cerita saya sendiri. Ini bukan cerpen apalagi novel terlebih lagi komik (yaiyaalah ga ada gambar  sedikit pun). Ini hanyalah uraian singkat saya ketika menjadi pengurus BEM REMA UPI. Terlepas dari itu, bahagia itu tak harus santai, ceria itu tak harus luang, karena ternyata dalam kondisi sibuk, dalam padatnya waktu, kita masih bisa merasakan bahagia dengan mereka yang sama-sama berjuang tidak untuk dirinya sendiri. Yang tak hanya memikirkan saya saya saya dan saya tapi memikirkan apa manfaat yang bisa kita berikan untuk orang banyak.
Bagaimana pun kesenggangan antara pikiran saya dulu tentang BEM dan realitas yang kini saya rasakan ketika menjadi pengurus BEM tidak membuat saya mampu untuk menghindar dari kehidupan organisasi saya sekarang ini. Seberat apapun tantangannya, harapannya adalah Allah memberikan pundak yang kuat untuk menopang seluruh beban ini hingga akhir tiba.