Rabu, 06 Maret 2013

cerita dibalik 1500



Apa yang akan kamu lakukan terhadap uang senilai Rp 1.500,- yang kamu miliki? Apa aja yang bisa kamu beli dengan uang ini? Hmmm...mungkin air mineral botol kecil, setusuk cilok goreng (sisa 500), beli penghapus, beberapa permen, satu gehu pedas, hmm...apa lagi ya? Ga mudah memang untuk membelanjakan uang 1500 di zaman sekarang yang mungkin tidak begitu memiliki nilai yang tinggi. Bahkan beli pulsa pun tak cukup.
Saya pernah punya satu cerita tentang uang senilai 1500 rupiah. Suatu saat ketika saya bermaksud untuk pulang kampung, saya tidak begitu memperhitungan berapa ongkos yang akan dikeluarkan. Saya pikir sama aja, ga ada yang berbeda. Dengan langkah santai, saya pun naik angkot dan tiba di terminal. Hampir saja naik minibus, si Bapa Kondekturnya bilang,”Wah, neng sekarang mah 15.000,-, untuk dua hari ini“
Saat itu saya pikir, “Ya emang kenapa pa kalau 15.000? masalah?” Namun, kurogoh juga saku-saku tasku dan dihitunglah semua uang yang ada. Alhasil, uang yang ada hanya 13.500  rupiah. Asli, kaget setengah mati. “Trus gimana bisa pulang? Jalan kaki mah ga mungkin eung”. Putar otak, bagaimana pun juga harus tetap pulang, tapi gimana cara ngedapetin uang 1.500 nya? Pikir lagi... pikir lagi...”apa nawar aja ke Bapa  Kondekturnya yaa?? Ah tapi ga enak.” Hmmm....ayoooo pikir lagi. Buka-buka hape dan mulai mencari siapa yang bisa dihubungi. Mulai dari teman yang tinggal lumayan dekat dengan daerah itu. “Oh, no ternyata dia masih sedang di kampus”. Teman kostn yang juga sama-sama akan pulang. ”Sip. Dia mau pulang, tapi masih di kostn yaa berarti harus menunggu sampai dia datang.” Setelah menunggu yaa sekitar seperempat jam coba dihubungi lagi, ternyata dia masih di kostn. Astaghfirullah, gimana ini?! Akhirnya dicobalah menghubungi sahabat-sahabat yang tadi sempat bersama sebelum saya pulang. Kaget, iya, mereka kaget. Saya coba meminjam uang 1.500 rupiah tentu tak bisa diambil dari atm, berarti saya pinjam 50.000 rupiah. Alhamdulillah, ada yang bisa meminjamkan. Kukirimkan no rekening yang sebelumnya ku dapatkan dari kakakku di rumah –sempat dikira mau ditipu, benar ini adiknya atau buka- tanpa memberitahukan kenapa meminta no rekening tabunganku sendiri. Maklum, lupa dan tak ingin membuat mereka cemas.
Kulangkahkan kaki menuju atm bersama. Alhamdulillah transferan sahabatku sudah bisa kuterima, yes pulang deh. Beberapa detik slip saldonya keluar. Kulirik sesaat angka saldonya 199.xxx. “Hmm berapa yang mereka kirimkan? 200.000? Bukannya saya Cuma pinjam 50.000? kulihat baik-baik slip tadi. Jreng jreng (kalo ada suara gitar), mataku terbelalak. Bukan 199.xxx tapi 1.99x.xxx (hampir dua juta). Kupikir baik-baik, uang siapa ini? Kenapa bisa ada di rekening tabunganku? apa ini uang beasiswa? Nominalnya mirip dengan uang beasiswa. Alhamdulillah. Dengan nada dan raut yang masih bingung kuhubungi sahabatku dan kuceritakan apa yang telah terjadi. “Ada-ada aja.” “Rempong ente.” “hati-hati eh, lalawora pergi-pergian ga bawa uang”. Hehee... Ya macam-macamlah. Kuhubungi pula sahabatku yang juga menjadi penerima beasiswa tahun ini. Ternyata benar, itu adalah uang beasiswa yang sebenarnya sudah cair sejak awal bulan dan aku baru tahu sekarang, akhir bulan. Kebayanglah gimana perasaanku saat itu. Senang, sedih, malu, kaget, rempong, semuanya campur aduk jadi satu. Mau senyum-senyum, tapi mau nangis juga. Alhamdulillahirobbil’alamiin
Hmm..akhirnya aku tetap pulang dan tetap menunggu teman kostnku hampir 2 jam. Tak mau kutinggalkan dia begitu saja setelah uang telah kudapat. Bersama-sama naik bis dan setelah membayar, ternyata ongkosnya hanya 10.000 rupiah. Deg. Jadi sebenarnya aku bisa pulang dari dua jam yang lalu tanpa harus merepotkan banyak orang. Hmm..tapi kucoba mengambil hikmah dari kejadian sore ini. Kalau saja tadi tidak mereasa kurang uang, aku sudah naik minibus dan akan merasa ketika membayar dan itu pasti malu banget. Kalau saja tadi tidak minta untuk ditransfer, mungkin aku tak pernah tau kalau ada uang di rekening tabunganku. Dan yang pasti kau tak perlu menerima uang dari orang tuaku. Setidaknya sampai uang itu habis. Alhamdulillah, sedikit meringankan mereka.
Alhamdulillah, setelah dijemput kakakku sampailah di rumah, makan mie ayam traktiran kakakku (aku yang dijemput, aku juga yang ditraktir, kebalik) dan cepat istirahat karena kepalaku begitu pusing. Keesokan harinya kuceritakan apa yang terjadi kepada keluargaku. Kaget, heran, lucu, sempat cemas, ya begitulah keluargaku. “Kalau ga punya uang, bilang, jangan menyiksa diri”, itulah kata-kata  yang keluar dari mereka. Hmm. Keluarga kecilku (bapa, ibu, kakak), i love you so much!! Alhamdulillah tiada terkira untuk Rabb-ku.
J