Apa yang
akan kamu lakukan terhadap uang senilai Rp 1.500,- yang kamu miliki? Apa aja
yang bisa kamu beli dengan uang ini? Hmmm...mungkin air mineral botol kecil,
setusuk cilok goreng (sisa 500), beli penghapus, beberapa permen, satu gehu
pedas, hmm...apa lagi ya? Ga mudah memang untuk membelanjakan uang 1500 di
zaman sekarang yang mungkin tidak begitu memiliki nilai yang tinggi. Bahkan
beli pulsa pun tak cukup.
Saya
pernah punya satu cerita tentang uang senilai 1500 rupiah. Suatu saat ketika
saya bermaksud untuk pulang kampung, saya tidak begitu memperhitungan berapa
ongkos yang akan dikeluarkan. Saya pikir sama aja, ga ada yang berbeda. Dengan
langkah santai, saya pun naik angkot dan tiba di terminal. Hampir saja naik
minibus, si Bapa Kondekturnya bilang,”Wah, neng sekarang mah 15.000,-, untuk
dua hari ini“
Saat
itu saya pikir, “Ya emang kenapa pa kalau 15.000? masalah?” Namun, kurogoh juga
saku-saku tasku dan dihitunglah semua uang yang ada. Alhasil, uang yang ada
hanya 13.500 rupiah. Asli, kaget
setengah mati. “Trus gimana bisa pulang? Jalan kaki mah ga mungkin eung”. Putar otak, bagaimana pun juga harus
tetap pulang, tapi gimana cara ngedapetin uang 1.500 nya? Pikir lagi... pikir lagi...”apa
nawar aja ke Bapa Kondekturnya yaa?? Ah
tapi ga enak.” Hmmm....ayoooo pikir lagi. Buka-buka hape dan mulai mencari
siapa yang bisa dihubungi. Mulai dari teman yang tinggal lumayan dekat dengan
daerah itu. “Oh, no ternyata dia masih sedang di kampus”. Teman kostn yang juga
sama-sama akan pulang. ”Sip. Dia mau pulang, tapi masih di kostn yaa berarti
harus menunggu sampai dia datang.” Setelah menunggu yaa sekitar seperempat jam
coba dihubungi lagi, ternyata dia masih di kostn. Astaghfirullah, gimana ini?!
Akhirnya dicobalah menghubungi sahabat-sahabat yang tadi sempat bersama sebelum
saya pulang. Kaget, iya, mereka kaget. Saya coba meminjam uang 1.500 rupiah
tentu tak bisa diambil dari atm, berarti saya pinjam 50.000 rupiah.
Alhamdulillah, ada yang bisa meminjamkan. Kukirimkan no rekening yang
sebelumnya ku dapatkan dari kakakku di rumah –sempat dikira mau ditipu, benar
ini adiknya atau buka- tanpa memberitahukan kenapa meminta no rekening
tabunganku sendiri. Maklum, lupa dan tak ingin membuat mereka cemas.
Kulangkahkan
kaki menuju atm bersama. Alhamdulillah transferan sahabatku sudah bisa
kuterima, yes pulang deh. Beberapa detik slip saldonya keluar. Kulirik sesaat
angka saldonya 199.xxx. “Hmm berapa yang mereka kirimkan? 200.000? Bukannya
saya Cuma pinjam 50.000? kulihat baik-baik slip tadi. Jreng jreng (kalo ada
suara gitar), mataku terbelalak. Bukan 199.xxx tapi 1.99x.xxx (hampir dua
juta). Kupikir baik-baik, uang siapa ini? Kenapa bisa ada di rekening
tabunganku? apa ini uang beasiswa? Nominalnya mirip dengan uang beasiswa.
Alhamdulillah. Dengan nada dan raut yang masih bingung kuhubungi sahabatku dan
kuceritakan apa yang telah terjadi. “Ada-ada aja.” “Rempong ente.” “hati-hati eh, lalawora
pergi-pergian ga bawa uang”. Hehee... Ya macam-macamlah. Kuhubungi pula
sahabatku yang juga menjadi penerima beasiswa tahun ini. Ternyata benar, itu
adalah uang beasiswa yang sebenarnya sudah cair sejak awal bulan dan aku baru
tahu sekarang, akhir bulan. Kebayanglah gimana perasaanku saat itu. Senang,
sedih, malu, kaget, rempong, semuanya campur aduk jadi satu. Mau senyum-senyum,
tapi mau nangis juga. Alhamdulillahirobbil’alamiin
Hmm..akhirnya
aku tetap pulang dan tetap menunggu teman kostnku hampir 2 jam. Tak mau
kutinggalkan dia begitu saja setelah uang telah kudapat. Bersama-sama naik bis
dan setelah membayar, ternyata ongkosnya hanya 10.000 rupiah. Deg. Jadi
sebenarnya aku bisa pulang dari dua jam yang lalu tanpa harus merepotkan banyak
orang. Hmm..tapi kucoba mengambil hikmah dari kejadian sore ini. Kalau saja
tadi tidak mereasa kurang uang, aku sudah naik minibus dan akan merasa ketika
membayar dan itu pasti malu banget. Kalau saja tadi tidak minta untuk
ditransfer, mungkin aku tak pernah tau kalau ada uang di rekening tabunganku.
Dan yang pasti kau tak perlu menerima uang dari orang tuaku. Setidaknya sampai
uang itu habis. Alhamdulillah,
sedikit meringankan mereka.
Alhamdulillah, setelah dijemput kakakku sampailah di rumah, makan mie ayam
traktiran kakakku (aku yang dijemput, aku juga yang ditraktir, kebalik) dan
cepat istirahat karena kepalaku begitu pusing. Keesokan harinya kuceritakan apa
yang terjadi kepada keluargaku. Kaget, heran, lucu, sempat cemas, ya begitulah
keluargaku. “Kalau ga punya uang, bilang, jangan menyiksa diri”, itulah kata-kata yang keluar dari mereka. Hmm. Keluarga
kecilku (bapa, ibu, kakak), i love you so
much!! Alhamdulillah tiada terkira untuk Rabb-ku.
J